Beranda ﹥ Berita Terbaru ﹥ Saling Ngotot Argumen, Camat Kuba Menangis, Rapat Koordinasi Nihil Subtansi

Saling Ngotot Argumen, Camat Kuba Menangis, Rapat Koordinasi Nihil Subtansi

 

MediacyberID.com – KUBA – Rapat Koordinasi (Rakor) terkait rencana pembangunan Jalan Lintas Kubu sepanjang 7 kilometer oleh perusahaan PT Pertamina Hulu Rokan yang akan dilakukan pada tanggal 23 Juni 2026 di Kecamatan Kubu Babussalam menuju Kecamatan Bangko Pusako, Kabupaten Rokan Hilir, Jum”at (19/6/2026), berlangsung alot dan berakhir tanpa menghasilkan kesepakatan konkret.

Rakor yang digelar di kantor Camat Kubu Babussalam itu dihadiri unsur pemerintah, anggota DPRD, aparat kepolisian, kepala suku, Datuk Penghulu Kubu-Kuba, tokoh masyarakat, dan tokoh agama. Namun forum yang semula diharapkan membahas teknis pelaksanaan pembangunan justru diwarnai perdebatan panjang antar peserta.

Sejumlah peserta mempertanyakan substansi rapat yang dinilai hanya sebatas penyampaian informasi mengenai rencana pembangunan jalan oleh PHR, tanpa pembahasan teknis yang jelas terkait keterlibatan masyarakat dalam proses pembangunan.

Salah seorang peserta forum, Gozali, secara terbuka menyampaikan kekecewaannya. Menurutnya, informasi mengenai pembangunan jalan tersebut telah diketahui masyarakat sejak lama sehingga forum seharusnya difokuskan pada mekanisme pengawasan dan peran masyarakat selama proyek berlangsung.

“Yang perlu dibahas adalah posisi masyarakat saat pembangunan berjalan. Apakah masyarakat hanya menjadi penonton atau dilibatkan dalam pengawasan agar pembangunan sesuai harapan bersama,” ujarnya dalam forum.

Perdebatan semakin menghangat ketika muncul usulan agar sebelum pembangunan dimulai dilakukan prosesi adat berupa semah atau syukuran. Usulan tersebut memunculkan perbedaan pandangan di antara peserta rapat.

Kepala Suku Bebas, Datuk Makmur, menilai tradisi semah dalam adat setempat tidak lazim dilakukan untuk kegiatan pembangunan jalan. Menurutnya, ritual tersebut biasanya dilakukan dalam kondisi tertentu yang berkaitan dengan musibah atau pelanggaran adat.

“Dalam adat kita, semah dilakukan pada situasi tertentu, bukan untuk setiap kegiatan pembangunan,” katanya.

Perbedaan pendapat mengenai usulan tersebut membuat forum terbelah. Sebagian peserta mendukung pelaksanaan semah sebagai bentuk penghormatan terhadap adat dan budaya lokal, sementara sebagian lainnya menilai hal itu tidak memiliki dasar adat yang kuat untuk dikaitkan dengan pembangunan jalan.

Situasi yang semakin tegang membuat jalannya rapat beberapa kali diwarnai saling sanggah antar peserta. Hingga forum berakhir, tidak ada keputusan yang disepakati bersama terkait usulan maupun langkah teknis yang akan dilakukan menjelang pelaksanaan proyek pembangunan jalan.

Di tengah suasana yang memanas, Camat Kubu Babussalam, Ahmad Marjan terlihat emosional saat menanggapi berbagai pandangan peserta forum. Ia mengaku terharu setelah mendengar pernyataan salah seorang peserta, Rudi Hartono, yang berupaya menenangkan suasana rapat.

“Saya terharu, makanya saya sempat meneteskan air mata,” ujar Ahmad Marjan.

Rakor tersebut turut dihadiri anggota DPRD Rokan Hilir Adil Makmur dan Zahrul Saufi, Kapolsek Kubu, Camat Kubu Dr. H. Syafrizal, para kepala suku, Datuk Penghulu, tokoh masyarakat, tokoh pemuda serta tokoh agama.

Meski pembangunan Jalan Lintas Kubu oleh PHR tetap menjadi harapan masyarakat untuk memperbaiki akses transportasi di wilayah pesisir Rokan Hilir, rapat koordinasi yang digelar kali ini belum mampu melahirkan kesepahaman mengenai langkah-langkah teknis maupun mekanisme pelibatan masyarakat dalam pelaksanaannya. Akibatnya, forum berakhir tanpa keputusan yang dapat dijadikan pedoman bersama.(***)

error:
Scroll to Top