MediacyberID.com – Malang – Kegiatan Sosialisasi Merawat Kearifan Lokal Sebagai Fondasi Ketahanan Sosial Masyarakat Bersama Hj. Hikmah Bafaqih, M.Pd. anggota DPRD Provinsi Jawa Timur dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), yang digelar di Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Minggu (30/08/26)
“Sekarang ini seni tradisi, laku budaya, kegiatan-kegiatan para seniman dan budayawan itu tidak sepenuhnya bisa dipahami oleh publik, terutama anak-anak muda. Tidak transfer knowledge, transfer value, transfer skill-nya itu kurangnya cepat karena tidak menggunakan medium yang anak-anak muda aware. Media sosial, termasuk dengan AI,”Ujar hj. Hikma
“Maka kita ingin menjembatani bagaimana bapak-ibu yang pegiat seni tradisi, budayawan, seni itu benar-benar bisa memiliki kemampuan dasar. Ini pelatihan level dasar ya, yang dengan menggunakan gadget masing-masing itu sudah bisa melakukan promosi, mengedukasi, mengelaborasi apa yang selama ini sudah menjadi concern buat semua, kepada publik, terutama anak muda,”Terangnya
Memang harus pakai ini supaya anak muda aware. Kalau nggak pakai mediumnya anak muda, ya agak sulit mengetahui sesungguhnya apa-apa itu kelompok ACE gitu ya, kegiatan budaya di Singosari itu apa aja sih yang dikerjakan. Agar mereka tertarik, itu sebenarnya kita harus pakai media mereka,”Tutur Hikmah

“Itu nanti bergantung bagaimana kalian mengembangkan. Karena ini kan memang sebuah program besar level ASEAN. Jadi, peserta itu bisa memanfaatkan studi lanjut follow-up lewat Zoom. Jadi mereka menyediakan modul-modul, dan mereka juga boleh kemudian berkonsultasi dengan institut yang dimiliki oleh Kaizen Kolaboratif Impact yang menjadi mitranya ASEAN Foundation untuk program ini. Modul itu nanti disesuaikan. Jadi terus, tidak berhenti cuma ini. Jadi kalau mereka memang ternyata tertarik banget, itu bisa mengakses modul itu gratis, kemudian belajar terus-menerus sampai betul-betul punya keahlian,”Jelasnya
“Ini yang harus disertai permohonan maaf ya. Harus diakui bahwa negara dan pemerintah kurang hadir di urusan ini. Kurang melakukan penguatan-penguatan, termasuk penganggaran, baik dari pemerintah pusat, provinsi maupun kabupaten/kota, yang harus diakui itu masih minim perhatiannya,”Ucapnya
“Selama ini budayawan dan pegiat seni tradisi itu ya bergerak dengan biaya sendiri. Ini yang kita sedih gitu ya. Kayak komunitas budaya Singosari dan SRW yang ada di sini tuh kan ada dua komunitas: pegiat budaya Singosari dan komunitas Singo Rienggwasito (SRW). Mereka yang ngadep masyarakat adat Singosari dan SRW itu melakukan semuanya dengan biaya sendiri. Pemerintah hanya jarang-jarang sesekali aja membantu. Kita berharap sih tidak cuma segitu ya. Tapi karena memang kan Indonesia masih belum memprioritaskan laku budaya, kesenian dan budaya untuk kemudian menjadi bagian penting untuk instrumen pembangunan bangsa. karena ada program yang lain, masih terkikir ketahanan ekonomi dengan program koperasi desa. Jadi seniman itu kayaknya masih step berikutnya untuk terpikirkan,”Ungkapny
Itu tergantung teman-teman. Apa yang bisa dilakukan berkarya dengan media budaya ini. Jadi kan Kaizen Kolaboratif Impact itu tersedia untuk terus. karena nanti modulnya itu. Kali ini sudah bukan kali pertama saya lakukan dengan mereka ya, di beberapa titik dengan pengasuh pesantren juga. Jadi ya, mereka yang kemudian sangat tertarik dan mendalami. Itu keren. Mereka ngakuin ini keren gitu. Untuk akses modul nanti mereka kasih tahu. Ikutin aja. Kawan-kawan media kan juga perlu ya untuk tahu. Ikutin aja sampai selesai. Teman-teman Media nanti kalau mendaftar sebagai peserta boleh juga dapat sertifikatnya kok, nanti ada sertifikat,”Pungkasnya.(ARDI)
Lewati ke konten







