Beranda ﹥ Berita Terbaru ﹥ Kirab Mahkota Binokasih 2026 Kembali Menjadi Perhatian Masyarakat Jawa Barat

Kirab Mahkota Binokasih 2026 Kembali Menjadi Perhatian Masyarakat Jawa Barat

 

MediacyberID.com – Sejumlah daerah telah lebih dulu menggelar kirab budaya Sunda dalam rangkaian Milangkala Tatar Sunda. Melansir dari Humas Jabarprov, kirab budaya ini menjadi bagian dari perjalanan panjang Mahkota Binokasih yang dikirab lintas daerah di Jawa Barat mulai 2 Mei hingga 18 Mei 2026.

Dan hari ini, Sabtu (9/5/2026), giliran Kabupaten Karawang yang akan menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan budaya tersebut. Ribuan masyarakat diperkirakan akan memadati jalur kirab untuk menyaksikan langsung arak-arakan budaya Sunda yang membawa simbol kebesaran tanah Pasundan itu.

Lalu sebenarnya, apa itu Kirab Mahkota Binokasih?

Kirab Mahkota Binokasih merupakan arak-arakan budaya yang menghadirkan simbol pusaka Kerajaan Sunda bernama Mahkota Binokasih Sanghyang Pake. Pusaka ini dikenal sebagai salah satu warisan penting dari peradaban Sunda masa lampau.

Mahkota Binokasih sendiri merupakan peninggalan Kerajaan Sunda abad ke-14 yang terbuat dari emas murni dengan berat sekitar 8 kilogram dan dihiasi batu giok. Dalam sejarahnya, mahkota tersebut menjadi simbol legitimasi kekuasaan raja Sunda sekaligus lambang keadilan dan kasih sayang.

Melansir dari Humas Jabarprov, rangkaian kirab budaya ini digelar di berbagai wilayah yang memiliki keterkaitan sejarah dengan perjalanan peradaban Sunda di masa lalu.

Karawang menjadi salah satu titik penting karena wilayah ini memiliki jejak sejarah penyebaran Islam dan budaya Sunda melalui sosok Syekh Quro. Tokoh tersebut dikenal memiliki murid bernama Subang Larang yang kemudian dinikahi oleh Prabu Siliwangi. Hingga kini, jejak sejarah Syekh Quro masih melekat kuat di Karawang dan menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat setempat.

Sejarah Mahkota Binokasih sendiri tidak bisa dilepaskan dari filosofi kehidupan masyarakat Sunda. Radya Anom Karaton Sumedang Larang, Luky Djohari Soemawilaya, menjelaskan bahwa nama lengkap pusaka tersebut adalah Binokasih Sanghyang Pake.

Kata “Binokasih” berarti kasih sayang, sementara “Sanghyang Pake” bermakna sesuatu yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Filosofi itu mengandung pesan bahwa kasih sayang seharusnya menjadi dasar dalam setiap tindakan manusia.(*)

error:
Scroll to Top